PUISI

PEREMPUAN PEMILIK HATI IBU

By: Yuni Purbo 
Terseok langkah tertindih beban

Senyum tetap terukir indah 

Tertekan rasa terluka jiwa 

Bibir masih merekahkan tawa 
Tiada pernah menyalahkan 

Menerima penuh lapang segala tudingan 

Menyimpan luka di dasar rasa terdalam 

Berusaha tegar meski raga tiada lagi daya 
Perempuan pemilik hati ibu

Menancapkan satu muara 

Tempat berkeluh kesah

Sandaran mengembalikan segala masalah 

Keyakinan akan keadilan juga kasih-Nya

Demi insan-insan tercinta 

*****

HK.11/05/17

Iklan

Cerpen

Wajah Dalam Tetes Hujan 

Oleh: Yuni Purbo 
     Musim panas masih membungkus negara Bauhinia, tetapi hujan laksana helaan napas tiap hari mengguyur. 

     “Gila! Lihat tu hujan begitu deras dengan tiba-tiba,” celoteh Nenek Chan sambil memandang ke luar jendela, “padahal barusan cuaca cerah.”

     “Ah, paling juga hanya sesaat. Tukan bener sudah reda lagi!” sahut Nyonya Lim, teman ngobrol Nenek Chan setiap hari di McDonalds, bangga pada perkiraannya yang tepat.

     Sehabis makan siang dengan rutin Nenek Chan mengajak Sarsiah pembantu setianya melepas jenuh di kedai siap saji tersebut. Duduk di deretan kursi pinggir jendela kaca, berkumpul dengan para manula lain untuk ngerumpi. 

     Bila hati Nenek Chan sedang cerah, dengan senang hati dia traktir Sarsiah secangkir kopi ditemani sebungkus kentang goreng panas. Kalau lagi keruh ya …,  hanya puas menikmati sejuknya AC yang tersedia gratis di tempat itu.

     Nenek Chan asyik ngobrol dengan teman sebaya, sementara pandangan Sarsiah tertuju pada tetes-tetes air menempel di jendela kaca. Tampak begitu indah, membentuk bulatan bening yang segera lebur dan mengalir ke bawah saat tetesan lain menimpanya. 

     Tiba-tiba seraut wajah terlukis jelas dalam bulatan air yang bening itu. Seraut wajah lelah milik wanita yang telah mengantarkannya menikmati keindahan dunia. Senyum terukir jelas di bibirnya yang selalu mengucap perkataan bijak.

     “Baiklah, Ndhuk, simbok akan terus bertahan untuk menunggumu pulang. Bekerjalah yang baik, jaga diri, dan berhati-hatilah di negara orang! Simbok akan selalu berdoa agar majikanmu menghargai, serta baik padamu,” pesan Mbok Rumi beberapa hari lalu, masih terngiang jelas di telinga Sarsiah. Saat dia minta izin untuk menambah kontrak kerja.

     Tidak terasa butiran sebening tetesan air hujan pun bergulir di pipi Sarsiah. Perempuan itu tidak bisa menyembunyikan ketakutan hati melihat kenyataan akan wanita yang sangat dicintainya itu sudah semakin renta, dan sakit-sakitan.

     “Tuhan, berilah hamba kesempatan untuk bisa ganti merawat kedua orangtua, serta izinkan hamba agar bisa memberi sedikit kebahagiaan pada beliau,” lirihnya.

     “Salah, cepat habiskan kopimu! Sudah waktunya kita pulang,” suara cedal Nenek Chan mmembuyarkan lamunan Sarsiah, yang segera menghapus rinai hujan dari pelupuk mata sayunya. Menyisakan lantunan doa dalam hati, memohon agar Tuhan mengabulkan harapan untuk bisa ganti merawat orangtua yang sangat dicintainya.
*****

#FF#

​Assalamualaikum all …
Wajah dalam Tetes Hujan 

Oleh: Yuni Purbo 
     Musim panas masih membungkus negara Bauhinia, tetapi hujan laksana helaan napas tiap hari mengguyur. 

     “Gila, lihat tu hujan begitu deras dengan tiba-tiba!” celoteh Nenek Chan sambil memandang ke luar jendela, “padahal barusan cuaca cerah.”

     “Ah, paling juga hanya sesaat. Tukan bener sudah reda lagi!” sahut Nyonya Lim, teman ngobrol Nenek Chan setiap hari di McDonalds, bangga pada perkiraannya yang tepat.

     Sehabis makan siang dengan rutin Nenek Chan mengajak Sarsiah, pembantu setianya, melepas jenuh di kedai siap saji tersebut. Duduk di deretan kursi pinggir jendela kaca, berkumpul dengan para manula lain untuk ngerumpi. 

     Bila hati Nenek Chan sedang cerah, dengan senang hati dia traktir Sarsiah secangkir kopi ditemani sebungkus kentang goreng panas. Kalau lagi keruh ya …,  hanya puas menikmati sejuknya AC yang tersedia gratis di tempat itu.

     Nenek Chan asyik ngobrol dengan teman sebaya, sementara pandangan Sarsiah tertuju pada tetes-tetes air menempel di jendela kaca. Tampak begitu indah, membentuk bulatan bening yang segera lebur dan mengalir ke bawah saat tetesan lain menimpanya. 

     Tiba-tiba seraut wajah terlukis jelas dalam bulatan air yang bening itu. Seraut wajah lelah milik wanita yang telah mengantarkannya menikmati keindahan dunia. Senyum terukir jelas di bibirnya yang selalu mengucap perkataan bijak.

     “Baiklah, Ndhuk, simbok akan terus bertahan untuk menunggumu pulang. Bekerjalah yang baik, jaga diri, dan berhati-hatilah di negara orang! Simbok akan selalu berdoa agar majikanmu menghargai, serta baik padamu,” pesan Mbok Rumi beberapa hari lalu, masih terngiang jelas di telinga Sarsiah. Saat dia minta izin untuk menambah kontrak kerja.

     Tidak terasa butiran sebening tetesan air hujan pun bergulir di pipi Sarsiah. Perempuan itu tidak bisa menyembunyikan ketakutan hati melihat kenyataan akan wanita yang sangat dicintainya itu sudah semakin renta, serta sakit-sakitan.

     “Tuhan, berilah hamba kesempatan untuk bisa ganti merawat kedua orangtua, serta izinkan hamba agar bisa memberi sedikit kebahagiaan pada beliau,” lirihnya.

     “Salah, cepat habiskan kopimu! Sudah waktunya kita pulang,” suara cedal Nenek Chan membuyarkan lamunan Sarsiah, yang segera menghapus rinai hujan dari pelupuk mata sayunya. Menyisakan lantunan doa dalam hati, memohon agar Tuhan mengabulkan harapan untuk bisa ganti merawat orangtua yang sangat dicintainya.
*****

HK.20/08/2016

SECANGKIR CAPPUCCINO

SECANGKIR CAPPUCCINO

By: Yuni Purbo

 

Secangkir kopi masih mengepulkan asap

Memamerkan aroma khas wangi cappuccino

Menarik hasrat tuk segera menegukknya

Dalam keheningan senja di antara musim dingin nan menusuk

 

Bias lelah terpancar dari seraut wajah

Berusaha tegar dalam topangan raga nan kian merapuh

Sunggingan senyum terukir manis di sudut bibir

Sama sekali jauh dengan rasa tertanam di bongkahan hati

 

Kidung doa pelan terapal seiring tangis tertahan

Memasrahkan resah

Sabar menerima permainan kehidupan

Luruh bersama nikmatnya cappuccino

Mengalir pelan membasahi kerongkongan

Mengusir dingin di musim nan mengigil

*****

HK.17/01/2015

 

 

 

Ngupil Aman Tanpa Membuat Nek

Ngupil AmanTanpa Membuat Nek
Oleh: Yuni Purbo

NGUPIL, adalah suatu kegiatan sangat mengasyikkan atau menyenangkan bagi seseorang. Namun ternyata kegiatan tersebut bisa berbahaya bagi kesehatan dan tubuh. Berdasarkan survei yang dilakukan tim peneliti dari Wisconsin dengan melibatkan 200 partisipan, diketahui rata-rata seseorang mengupil sebanyak 4 kali dalam sehari saat sedang santai.
Mengupil merupakan kegiatan pisitif karena membersihkan hidung dari kotoran dengan menggunakan jari. Tetapi juga merupakan suatu kegiatan yang dipandang tabu. Sebab bisa menimbulkan perasaan jijik ataupun nek bagi yang melihatnya.
Seseorang kadang mengupil di tempat umum tanpa sadar karena sedang pilek. Dalam keadaan pilek infeksi sinus dan alergi bisa menyebabkan sekresi hidung atau lendir meningkat. Sekresi ini seiring waktu akan mengering dan mengakibatkan sulit bernapas, hingga memicu seseorang untuk menghilangkan penumpukan lendir dengan cara mengupil.
Bisa juga seseorang mengupil karena ingin menghilangkan iritasi. Hidung cenderung menjadi kering dan teriritasi karena hal-hal seperti alergi, bahan kimia, dan polusi udara, yang menimbulkan rasa gatal dalam hidung. Namun, kebiasaan mengupil bisa juga dipengaruhi oleh gangguan obsesif-kompulsif yang disebut Rhinotillexomania. Di mana seseorang melakukan kegiatan mengupil untuk meringankan perasaan negatif yang mengganggu pikirannya. Sehingga sering melakukan kegiatan mengupil di tempat umum tanpa dia sadari.
Apapun alasannya, mengupil tetap saja menimbulkan perasaan jijik dan nek, bagi yang melihat kegiatan tersebut, apalagi bila terjadi di tempat-tempat penjualan makanan. Pasti sangat memuakkan. Selain itu mengupil juga mengakibatkan terpengaruhnya kesehatan tubuh seperti;
1. MUDAH TERSERANG FLU
Virus flu bisa melewati selaput lendir yang terdapat dalam hidung. Dengan memasukkan jari yang terkontaminasi virus tersebut ke dalam hidung akan menyebabkan seseorang terjangkit flu.
2. DAPAT MENYEBABKAN MIMISAN
Sering mengupil dapat menyebabkan kerusakkan di lapisan hidung yang berfungsi melindungi tubuh dari bakteri dan benda-benda asing di udara. Hal ini bisa memicu terjadinya mimisan.
3. TERKENA INFEKSI
Orang yang sering mengupil lebih mudah terkena infeksi virus flu, serta menyebabkan kuman dan bakteri mudah masuk ke hidung dan menyebar ke bagian tubuh lain.
4. MERONTOKKAN RAMBUT HIDUNG
Ngupil yang dilakukan secara konsisten dan terus menerus bisa menyebabkan rontoknya rambut hidung yang berfungsi menyaring debu dan polusi di udara, hingga dapat mengakibatkan mudahnya berbagai jenis penyakit dan infeksi masuk dalam tubuh.
5. MENYEBABKAN KEMATIAN
Mengupil bisa berakibat fatal bila seseorang berusaha mengeluarkan upil yang besar dan mengeras karena dalam hidung terdapat tulang ethmoid yang memisahkan hidung dari otak. Bila saat mengupil tulang ini sampai tertusuk, akan mengakibatkan kebocoran cairan di otak yang menyebabkan meningitis.
Demikianlah, mengupil memang diperlukan untuk membersihkan kotoran dari hidung, tetapi dituntut agar hati-hati supaya tidak berubah jadi merugikan.
Sebaiknya mengupillah saat sedang mandi atau cuci muka. Karena di saat itu hidung dalam keadaan basah, sehingga kotoran di dalamnya lebih mudah dibersihkan. Cucilah dulu yang bersih jari-jari sebelum mengupil, keluarkanlah kotoran lalu bilas jari dengan air bersih. Ulangilah sampai kotoran dan lendir di dalam hidung benar-benar bersih. Dengan cara seperti itu, maka hidung akan bersih dan nyaman sepanjang waktu, juga rambut-rambutnya akan tetap terpelihara.
Begitulah cara ngupil yang lebih aman, tidak membuat orang lain merasa jijik dan nek, tanpa mengurangi keasyikkan kegiatan tersebut. Serta bisa terhindar dari bahaya yang mengancam tubuh.
Semoga bermanfaat.

*****
HK.23/05/2016