KEMBALI KE TITIK

Muara hati terpotong

Harap kembali kosong

Menatap wajah buram

Pekat dalam dusta

Rayumu menusuk bak sembilu

Janji madumu sepahit empedu

Terpuruk rasa kian membenci

Angan kembali ke titik lagi

Bercumbu dengan waktu lurus pada-Mu

Bersandar diri, yakin Engkau lebih tahu keperluanku

Manusia hanya mencari keuntungan

Dan Engkau-lah pemilik sebaik-baik keberuntungan.

*****

HK.21/08/2020

UNTUNG JADI BMI

Buruh migran Indonesia. Beragam masalah, dan kebutuhan hidup yang mendorong warga negara Indonesia untuk memutuskan kerja di negara orang.

Beraneka ragam pula pandangan orang, khususnya pada para pahlawan devisa perempuan. Foto-foto yang melukiskan betapa enak kerja menjadi pembantu rumahtangga di negara orang, yang tersebar di medsos sering menuai pandangan negatif dari segelintir orang yang tidak mengerti. Bawasanya di balik begron yang terlihat menyenangkan itu, tersimpan cerita pahit dan perjuangan yang tidak bisa dianggap enteng.

Seorang sahabat bertanya padaku, “Kenapa, kok bisa sampai menjadi BMI?”

Aku bersyukur menjadi BMI karena, pekerjaan tersebut telah memperkenalkan aku pada dunia literasi yang aku sukai sejak kecil, serta karenanyalah aku juga tahu bagaimana hidup sehat.

Berapa puluh kilo gram gula pasir yang bisa kuhindari selama jadi BMI? Dulu gula pasir itu kebutuhan pokok bagiku. Membuat teh, masak, bikin kue, semua butuh gula yang cukup.

Berapa puluh liter santan kelapa yang bisa mencipta penyakit, bisa kujauhkan dari tubuh karena, menjadi BMI. Ketika di rumah, masak sayur lodeh harus bersantan kental, agar nikmat tanpa peduli esok hari akan membahayakan fisik. Kolak, kue basah bersantan, tidak lega bila cairan putih susu itu tidak mencukupi.

Aku merasa beruntung sepenggal waktuku kunikmati sebagai BMI. Selain bisa mewujudkan keinginan awal (meski tidak sepenuhnya) yang mendorongku untuk merantau ke tanah orang, banyak pelajaran hidup yang aku peroleh.

Jangan Lupa Miliki Bukunya Yaa 🥰🥰

PEREMPUAN DAN KERTAS KOSONG

Merupakan buku kumpulan cerpen yang berisi 17 judul yang di antaranya:

Gadis Pemungut Bulir-bulir Cahaya.

Tiga puluh dua! Sebuah bilangan angka yang semakin membuatku merasa tertekan. Dan besok angka itu pasti akan mencuat menjadi topik hangat di kantor. Aku muak membayangkan! Apalagi pak Rojali si cleaning services, begitu setia ikut mengemas jumlah bilangan itu dari tahun ke tahun. Lelaki berambut keperakan tersebut, seperti telah menandai kalender di rumahnya dengan lingkaran spidol biru tua, atau bahkan merah menyala. Hingga setiap tanggal dua puluh September, dia tidak pernah lupa ikut menghitung pertambahan jumlah angka yang aku punya.

“Selamat ya, Mas Septyan Syah! Hari ini kemasannya bertambah satu angka lagi. Kapan ditutup dengan label paten pernikahan? Bapak selalu menunggu, semoga dapat undangan untuk ikut merayakan.” Begitu ucapnya tahun lalu. Masih sama dengan tahun sebelumnya, seraya menaruh cangkir kopi dengan sedikit gula yang aromanya meliuk-liuk memasuki rongga hidung, membuatku segera mengangkat cangkir putih yang disuguhkannya itu.

“Jangan khawatir, Pak, pasti Bapak akan saya undang kalau gadis pemungut bulir-bulir cahaya itu sudah saya temukan,” kelakarku kemudian menyeruput kopi buatannya yang sangat pas sekali di mulut.

“Selamat berjuang, Mas! Semoga tahun depan acara ulang tahun telah pindah di rumah, dengan status yang telah berubah pula,” ucapnya lagi. Masih sama seperti rahun sebelumnya, sambil keluar ruangan dengan tangan memeluk nampan kosong.

Entah kenapa ucapan selamat dari pak Rojali menjadi satu-satunya moment yang paling aku tunggu. Mungkin, karena dia orang yang mengucapkan diiringi doa tulus dari dasar hati. Aku pun jadi sadar dengan apa yang aku katakan. Gadis pemungut bulir-bulir cahaya? Apakah ada? Di mana aku akan menemukannya? Apakah gadis seperti Enggar Wardani, si bintang kampus yang sampai sekarang masih suka menghubungiku itu, atau Nathaly gadis pekerja keras yang lebih sering pulang telat dari kantor, dan memiliki senyum menawan saat berpapasan. Apakah gadis seperti mereka yang aku maksud sebenarnya? Aku sendiri tidak tahu pasti, karena hanya sekedar berucap untuk menyetop pembicaraan yang sebenarnya tidak bisa aku jawab.

Hari-hariku sebagai menejer pemasaran, di sebuah perusahaan yang cukup besar, sangat padat dengan berbagai jadwal. Sampai-sampai tak ada waktu untuk memikirkan calon pasangan hidup, dan aku tidak suka atau lebih tepat sangat menentang perjodohan. Sehingga orangtuaku pun hanya bisa mengingatkan tanpa berani ikut mencarikan. Sebenarnya ada beberapa orang gadis yang dekat denganku, tetapi tak satu pun dari mereka benar-benar bisa mengikat hatiku. Bagiku mereka hanya pengisi kekosongan belaka.

Jomblo akut! Begitu ledek teman-teman kantor yang hampir semua telah menjadi seorang ayah ataupun ibu, padaku. Selama ini aku memang tidak pernah meresahkan kehidupan. Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, aku terbilang paling mapan. Sebuah tempat tinggal nyaman di perumahan elit telah aku miliki. Kendaraan pun lumayan bagus, meski bukan mobil keluaran terbaru. Namun, malam ini pikiranku benar-benar kalut mempersiapkan mental untuk besok pagi. Menghadapi serangan-serangan tajam dari teman kantor semenjak beberapa tahun terakhir, sungguh sangat menyudutkan.

“Buset!” gumamku melipat badan, dan menarik selimut untuk menutup seluruh tubuh, hingga kepalaku pun terbenam di bawahnya. Setelah kulihat jam beker di meja sebelah ranjang, jarum pendek tepat di angka tiga. Aku segera berusaha mengusir segala kecamuk yang membebani pikir, agar bisa terlelap.

*****

Miliki bukunya, dan baca kelanjutannya ya …

Bagaimana perjalanan Septyan Syah mendapatkan gadis impiannya.

KEDUDUKAN SEORANG IBU

Ibu, keberadaannya kadang kita rasa bagai hal yang biasa. Sepulang sekolah ucap salam, cium tangan beliau, sudah. Kemudian melanjutkan aktivitas sesuka kita.

Ketika telah berkeluarga, kita semakin jarang berinteraksi dengan beliau, karena sibuk dengan kewajiban dan tanggung jawab di rumahtangga sendiri. Kita sibuk dengan berbagai urusan. Tidak pernah menyadari, bahwa sesungguhnya ibu sangat merindukan kita. Begitu berharap anak-anak merasa tetap sangat membutuhkan kehadirannya. Namun, semua hanya beliau pendam dalam hati, karena tidak ingin membebani serta merepotkan anak-anaknya.

Meski anak sering kali melukai dan membuat kecewa, hati seorang ibu tidak sanggup untuk membenci. Masih tetap saja mengkhawatirkan buah hati yang dalam benaknya tetaplah kecil. Belum mengerti banyak soal seluk beluk kehidupan, sehingga sangat dikhawatirkan tidak bisa menjaga diri.

Sering kita mengabaikan keberadaan beliau, tiada terpikir akan kerinduannya yang dalam pada kita. Hanya keyakinan yang membuat kita puas, bawasanya beliau baik-baik saja. Tanpa mewajibkan diri untuk sekedar berkirim kabar lewat tulisan ataupun telepon.

Kita baru menyadari betapa keberadaan beliau sangatlah berarti dan tiada tergantikan, setelah beliau kembali menghadap sang Pencipta. Betapa kita akan merasakan hilangnya sebuah cahaya yang semasa beliau ada membuat mudah langkah-langkah kita. Doa terbaik tiada pernah terputus dari bibir seorang ibu untuk buah hati, dan tidak perlu dipinta, hanya ajal yang akan memutuskan doa-doanya.

Berbaktilah pada ibu, curahkan perhatian dan kasih sayang untuk beliau, sebelum semua terlambat. Doa ibu laksana lentera yang menerangi gelapnya perjalanan, dan lentera itu akan semakin terang bila kita sebagai anak tahu akan kerinduannya.

*****

HK. 31/10/2019

PUISI

PEREMPUAN PEMILIK HATI IBU

By: Yuni Purbo 
Terseok langkah tertindih beban

Senyum tetap terukir indah 

Tertekan rasa terluka jiwa 

Bibir masih merekahkan tawa 
Tiada pernah menyalahkan 

Menerima penuh lapang segala tudingan 

Menyimpan luka di dasar rasa terdalam 

Berusaha tegar meski raga tiada lagi daya 
Perempuan pemilik hati ibu

Menancapkan satu muara 

Tempat berkeluh kesah

Sandaran mengembalikan segala masalah 

Keyakinan akan keadilan juga kasih-Nya

Demi insan-insan tercinta 

*****

HK.11/05/17